Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 September 2017

The Architecture of Love | #BookReview


"People say that Paris is the city of love, but for Raia, New York deserves the title more. It's impossible not to fall in love with the city like it's almost impossible not to fall in love in the city."

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sedadar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.
Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.
Raia menjadikan setiap sudut New York "kantor"-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.
Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.


Setelah dibuat terbang melayang-layang karena "Critial Eleven", aku harus baca buku ka Ika yang lain. "The Architectur of Love" karya Ika Natassa adalah buku kedua dari Ka Ika yang aku baca, dan aku cinta banget. Mulai dari sinopsisnya aja sudah bikin penasaran banget, apalagi latar tempatnya adalah New York. Haduh, waktu pertama kali lihat buku ini dan baca sinopsisnya, pokoknya harus baca! 

Cover bukunya menurutku "mengundang" banget buat dilihat. Soalnya aku suka cover yang simple tapi keren gitu loh hahaha. 

Buku ini menceritakan dengan Raia, seorang penulis best seller yang pergi ke New York untuk mencari inspirasi menulisnya karena dia mengalami "Writer's block". Di New York, dia berjalan-jalan dengan buku catatannya atau laptop, mendengarkan setiap percakapan, melihat setiap kegiatan orang-orang di sekelilingnya. Berusaha mencari inspirasi di tengah keramaian.

Hingga suatu hari, ia bertemu River, seorang pria yang tidak sengaja ia temui. River seseorang yang dingin, tidak banyak bicara, tapi tetap hangat dan ramah. River yang suka menggambar dan Raia yang butuh inspirasi menulis, akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi New York setiap hari bersama-sama. Raia mencari inspirasi dan River menggambar gedung-gedung.

Dari hanya sekedar teman berjalan-jalan, Raia mulai belajar melihat kota New York dari sisi yang berbeda. Mereka perlahan-lahan semakin dekat, hingga Raia tahu rahasia River dibalik sikapnya selama ini yang membuat Raia penasaran.

Cerita tentang seorang penulis yang tidak bisa menulis lagi, lalu bertemu dengan seseorang sangat menarik perhatian aku. Apalagi dengan sifat Bapak River yang menurutku "Husband Material" sekali hahaha. Buku ini sukses banget bikin aku klepek-klepek sama sifatnya Bapak Sungai.

Raia dan River, yang sama sama memiliki masa lalu yang ingin dilupakan, bertemu dengan tidak sengaja, menjadi dekat dan saling berbagi cerita tentang gedung atau tempat yang mereka kunjungi. Raia dengan sifatnya yang friendly, River dengan sifatnya yang dingin. Mereka sama sama mencari "peralihan" dari masa lalunya. 

Alur ceritanya sulit ditebak. Aku dibikin penasaran terus sama Ka Ika soalnya pasti merahasiakan masalahnya untuk di pertengahan, bikin aku kepikiran terus "Aduh, ini sebenarnya kenapa sih." hahaha. 

Ka Ika menuliskannya dengan sudut pandang ketiga, tapi juga ada beberapa bagian menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Raia dan River. Aku paling senang nih kalau ada sudut pandangnya diganti-ganti, jadi nggak perlu penasaran sebenarnya apa yang dirasakan orang itu.

Dan seperti di Critical Eleven, Ka Ika selalu menulis dengan gaya penulisan yang santai namun tetap enak dibaca dan nggak kaku. Plus banyak percakapan dengan bahasa Inggris, jadi bisa belajar juga yeaay.

Buku ini wajib banget sih dibaca sama siapapun kalian yang bermimpi suatu hari nanti pengen ke New York. Aku baca buku ini serasa lagi traveling ke New York, soalnya diajak keliling-keliling sama Bapak River terus. Apalagi Ka Ika menuliskan setiap gedung/tempat itu dengan cukup detail. Jadi dapat pengetahuan baru tentang tempat-tempat di New York seperti Whispering Gallery, Queensboro Brigde, Grand Central Terminal, dan lainnya. Keren banget! Bikin makin pengen ke New York.

Satu kekurangannya adalah, endingnya. Menurutku endingnya tuh kayak masih menggantung. Masih ada beberapa hal yang sebenarnya perlu dijelaskan (atau mungkin menurut aku aja perlu penjelasan karena belum diberitau sebenarnya bagaimana akhirnya).

Tapi selain itu, "The Architecture of Love" adalah sebuah kisah cinta yang dewasa, nggak lebay, tapi sangat seru! Bikin kepikiran kalau belum baca sampai habis. Ka Ika, sekali lagi sudah sukses bikin aku jatuh cinta dengan bukunya! Terima kasih telah menciptakan Bapak River.


Judul : Critial Eleven

Penulis: Ika Natassa

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 304 halaman

Rate: 4/5


"Kita memang tidak pernah bisa memastikan kapan kita bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan."

"With the way he makes me feel, I don't care about that shit anymore. I don't need to know about his past anymore because his present-and presence-makes me happy. I make him laugh and he makes me laugh and it's enough."

"There's nothing good will come out of doing it, right, Raia? Nothing. You'll end up even more foolishly in love with a man who doesn't even blink on the thought of leaving you. This was never meant to last longer. This is temporary."

"Tidak menghitung waktu tidak akan menjadikan waktu berhenti. Sama seperti meyakinkan diri sendiri bahwa sesuatu itu biasa-biasa saja tidak akan dapat mengingkari takdirnya untuk menjadi lebih dari biasa."

"Paul pernah bilang disayangi itu menyenangkan. Hari ini River tahu, diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan."


P.S Pembatas bukunya Ka Ika selalu lucu-lucu, ku senang hahaha

Disclaimer: This is not a sponsored post. The review is based on my honest opinion.

Rabu, 08 Maret 2017

Everything Everything | #BookReview



Penyakitku langka, dan terkenal.
Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujuh belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokiku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.


Aku pertama kali tau buku ini dari instagram @penerbitspring dan aku langsung jatuh cinta sama covernya. Emang aku langsung tertarik sama buku kalo covernya bagus (ini kebiasaan yang buruk memang, sedang dalam proses untuk tidak seperti ini lagi hahaha). Gimana nggak tertarik sama covernya, liat aja lucu begitu, bagus banget. Aku pun search tentang buku Everything Everything dan sinopsisnya sukses bikin aku penasaran.

Bercerita tentang Madeline, atau lebih sering dipanggil Maddy, adalah seorang gadis remaja yang terkena penyakit SCID atau Severe Combined Immunodeficiency-Defisiensi Imunitas Kombinasi. Intinya, Maddy alergi terhadap dunia luar. Tubuhnya rentan pada udara luar, kontak fisik dengan orang asing, pokoknya kalau dia keluar rumah, dia pasti sakit-atau mungkin mati.

Sehari-hari, Maddy hanya di dalam rumah. Membaca buku, sekolah online, mengobrol bersama Carla, bercengkrama dengan Ibunya, bermain permainan dengan Ibunya, lalu mengulangnya setiap hari. Dan itu berlangsung selama 17 tahun. Nggak kebayang kalo aku yang jadi Maddy, bosennya minta ampun.

Suatu hari, truk pindahan tiba di rumah sebelah. Lalu dia melihat Olly, cowok tinggi yang selalu berpakaian warna hitam. Kamar Olly dan Maddy saling berhadapan, membuat Maddy sering memperhatikan Olly. Hingga mereka pun bertukar kontak dan mereka mulai saling mengenal satu sama lain.

Maddy seperti menemukan dunia baru karena Olly. Maddy seperti berada di luar karena Olly. Olly membuat Maddy menjadi lebih hidup. Dari biasanya hanya melakukan aktifitas yang monoton, kini Maddy memiliki kegiatan baru, memikirkan Olly dan mengirim pesan untuk Olly.

Aku suka banget sifat Olly. Dia mungkin kalau secara fisik aku menggambarkan Olly seperti cowok-cowok yang cuek, cowok pecinta musik metal, dingin dan sebagainya. Tapi ternyata enggak, Olly is more than that. I don't want to give you spoiler, but you all must be know why i'm in love with Olly so much if you read this book.

And sometimes, i think i'm envy with Maddy. Because she never goes outside and she already got a boyfriend like hello, i'm here, i can go outside but i just can't get a boyfriend lol.

Cerita remaja yang jarang ditemuin, unik dan bikin penasaran. Karya pertama dari Nicola Yoon ini benar-benar keren. Ceritanya seru, apalagi di dalam bukunya juga banyak ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh suami Nicola, David Yoon. Buku ini juga nggak seperti buku lainnya yang 1 chapter terdiri dari beberapa halaman. Nicola menulis chapter demi chapter dengan tidak terlalu panjang. Ada yang panjang memang, tapi ada juga yang hanya setengah halaman, atau mungkin hanya beberapa kalimat. Tapi menurutku itu keren. Unik. Pokoknya, nggak akan bosen baca buku ini.





Dan juga, ENDINGNYA UNPREDICTABLE!!! Plot twist yang keren, Nicola!

Kekurangan dari buku ini menurutku adalah Nicola terkadang menulis kalimatnya dengan kalimat yang agak membingungkan. Kadang aku harus baca ulang baru bisa ngerti, "Oh, maksudnya gini." atau akunya aja yang lama mikir hahaha.

Nicola Yoon mengajarkan kita untuk berani mengambil risiko, seperti Maddy yang yang berani mengambil risiko, berani untuk menjalani hidup. Seperti yang tertulis di covernya, "Risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko."



Judul: Everything Everything

Penulis: Nicola Yoon

Tahun terbit: 2015. Terjemahan Indonesia tahun 2016

Penerbit: Penerbit Spring

Tebal: 335 halaman



"Kadang-kadang kau melakukan sesuatu untuk alasan yang tepat, kadang-kadang untuk alasan yang salah, dan kadang-kadang mustahil untuk melihat perbedaannya."

"Semua berisiko. Tidak melakukan apa-apa juga punya risiko." - Carla

"Di dalam kepalaku aku tahu aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi rasanya tidak seperti ini. Jatuh cinta padamu jauh lebih baik dari yang pertama kali. Rasanya seolah ini yang pertama dan terakhir dan sekaligus satu-satunya." - Olly

"Jadilah gadis yang berani. Ingat, hidup adalah anugerah." - Carla

"Hidupku lebih baik kalau kau ada di dalamnya." - Olly



P.S. Everything Everything akan tayang di bioskop pada bulan Mei! Klik di sini untuk lihat trailernya!

P.S.S. This is one of my favorite scene from the book. How can you not love Olly?


P.S.S.S. Sorry you can't see the book clearly. I'm just too busy to take a new picture so yeah...here is the book and my eyes. lol.



Disclaimer: This is not a sponsored post. The review is based on my honest opinion.

Sabtu, 11 Februari 2017

Critical Eleven | #BookReview





Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat--tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing--karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah--delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.



Saat ke toko buku, aku udah sering banget liat buku ini mampang di rak-rak, tapi aku belum tertarik beli, tapi aku udah penasaran sebenarnya. Lalu suatu hari aku pengen beli sebuah buku, sayangnya belum ada, dan justru akhirnya aku tertarik beli buku ini.

First of all, let's talk about the cover. It is awesome. Like, literally so cool. Covernya itu unik menurutku. Simple tapi keren gitu, apalagi bahan covernya yang beda dari cover umumnya, lebih keras. Aku suka banget cover buku ini.

Buku Critical Eleven ditulis oleh Ika Natassa, penulis dari buku-buku bestseller seperti 'A Very Yuppy Wedding', 'Divortiare', 'Twivorttare' dan 'Antologi Rasa'. 

Critical Eleven menceritakan tentang Anya dan Ale yang tak sengaja duduk bersebelahan saat dalam penerbangan dari Jakarta menuju Sydney. Selama 7 jam perjalanan tersebut, Anya dan Ale saling berbicara, saling bertukar cerita, kisah, dan tawa. Dan Ale nggak mau berpisah dengan Anya begitu saja, jadi Ale pun meminta nomor telpon Anya.

Beberapa waktu berlalu, Ale menikahi Anya. Rumah tangga jarak jauh antara Ale yang bekerja di Meksiko dengan Anya yang di Jakarta--yang terkadang juga sering ke luar kota bahkan negeri--nggak menghalangi rumah tangga mereka. Pertemuan mereka yang singkat menjadi berarti setiap detiknya.

Hingga hubungan mereka pun diberi cobaan, dan diperparah oleh Ale yang melakukan kesalahan yang sulit termaafkan, hingga hubungan rumah tangga mereka jadi seperti orang yang tak saling kenal namun tinggal dalam satu atap. Dekat tapi jauh. Ada tapi dihindari. Anya yang ingin sendiri untuk memikirkan hubungan mereka, dan Ale yang hanya bisa menunggu dan bersabar.

Buku Critical Eleven ditulis secara bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, yang tentu aja tambah seru karena aku nggak perlu penasaran, "Apa sih yang Anya rasain?" atau "Apa sih yang Ale rasain?". Juga ditulis dengan alur maju-mundur bikin cerita jadi tambah menarik, karena di tengah-tengah bagian yang kurang enak, kadang disisipkan cerita masa lalu yang bisa bikin senyum-senyum.

Gaya penulisan Kak Ika Natassa juga enak banget! Terus mengalir, nggak canggung dan mudah dimengerti. Karena ditulis dari sudut pandang yang berbeda, setiap sudut pandang Ale ataupun Anya ditulis dengan gaya yang "Ale" dan "Anya" banget. Bikin aku yang baca jadi ngerti apa yang Anya ataupun Ale rasain.

Juga, buku ini ditulis dengan campuran bahasa Inggris, yang menurutku jadi nilai plus karena bisa buat aku belajar bahasa Inggris lebih lagi sebelum baca novel yang full Inggris ha ha ha.

Tapi yang aku sayangin cuma endingnya, yang sebenarnya bagus, cuman kurang greget gitu. Gimana ya, cuma kayak, udah selesai, gitu aja, kurang ada something gitu yang bisa bikin endingnya lebih kerasa.

Critical Eleven sukses bikin aku penasaran disetiap babnya, bikin aku penasaran bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah yang menurutku itu sulit untuk diselesaikan. Mengajarkan untuk belajar memaafkan, ikhlas dan mau untuk terus maju.

Juga, bagi kalian pecinta kopi, harus baca buku ini! Seperti kata Jenny Yusuf, seorang penulis dan scriptwriter, dalam komentarnya tentang buku ini, "Satu lagi: novel ini harus dibaca sambil minum kopi. You'll know why!" 

Buku ini nggak hanya berisi tentang cinta, tapi juga keluarga, saudara, memaafkan, berusaha, dan ikhlas. Ika Natassa sukses menuangkan cerita yang begitu bagus, dengan gaya penulisan yang mudah dipahami namun sukses mengambil hati dan perasaan pembaca. 



Judul: Critical Eleven

Penulis: Ika Natassa

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 339 halaman



"Travel is a remarkable thing, right? It somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination."

"Expectation is a cruel bastard, isn't it? It takes away the joy of the present by making us wondering about what will happen next."

"Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti Ayah memilih Ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita memilih biji kopi yang terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita." -- Ayah / Bapak Jenderal

"Karena beginilah dari dulu gue mencintai Anya. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata." -- Aldebaran Risjad

"In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that."




P.S. Look how cute the bookmark is!



P.S.S. Critical Eleven sudah selesai proses syuting film layar lebar, loh! Pemeran utamanya adalah Reza Rahadian sebagai Aldebaran Risjad dan Adinia Wirasati sebagai Tanya Baskoro. Filmya akan ada di bioskop pada bulan Mei 2017!!! I'm so excited!!!


Disclaimer: This is not a sponsored post. The review is based on my honest opinion.

Kamis, 19 Januari 2017

Serendipity | #BookReview



Dulunya, Arkan dan Rani adalah sepasang kekasih. Tiba-tiba, di sebuah taman kota, Arkan mengikrarkan bahwa mereka harus berpisah.

Dua bulan telah berlalu. Sekarang, meskipun mereka satu kelas, Arkan tidak pernah lagi menyapanya. Kadang, memang selucu itu; mereka yang dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan 'hai' atau 'selamat pagi'.

Rani tahu Arkan membencinya. Rani tahu ini kesalahannya. Tapi Arkan seharusnya mendukungnya. Dia sedang berusaha bertahan hidup.

Dengan segala kemampuannya, dengan segala perisai dan kekuatannya, Rani berusaha bertahan dan berdiri tegak.


Buku "Serendipity" adalah buku kedua dari Erisca Febriani, penulis novel Dear Nathan. Awalnya ceritanya ini juga berawal dari Wattpad. Aku awalnya nggak tau kalau ini udah pernah dipublish di wattpad. Aku tau dari instagram Ka Erisca saat dia bilang kalau dia akan menerbitkan buku baru. Aku tertarik beli buku ini karena aku udah baca Dear Nathan dan itu nggak mengecewakan. Itulah sebabnya aku tertarik dengan buku kedua ka Eriska karena aku yakin kalau buku ini juga nggak akan mengecewakan.

Now, let's talk about the cover. Bagus. B-A-N-G-E-T. I really love the blue color, with hands holding each other, and the snow, ugh cover buku ini bagus banget. 

Pengertian dari Serendipity adalah kebetulan atau kejutan yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. (from Google)

Novel ini bercerita tentang kisah Arkan yang tidak sengaja melihat Rani, kekasihnya, berada di sebuah hotel bersama dengan seorang pria tua. Yang membuat Arkan tidak percaya apa yang dilihatnya adalah Rani mengenakan pakaian seksi. Apalagi posisinya Rani sedang bersama pria tua, di hotel.

Tentu Arkan berfikiran yang tidak-tidak tentang Rani. Tanpa mau mendengarkan apa alasan Rani, Arkan pun memutuskan hubungan mereka berdua. Semenjak itu, berita mengenai Rani dan gossip bahwa Rani adalah gadis tidak benar pun tersebar di sekolahnya. Rani dibully dan dijauhi oleh teman-teman sekolahnya, bahkan sahabat terdekatnya. 

Suatu hari hadir seorang murid baru bernama Gibran. Gibran dan Rani pun menjadi dekat karena mereka duduk bersama di kelas. Gibran menjadi satu-satunya teman Rani saat Rani berada dalam kesusahan. Hingga akhirnya terbongkarlah alasan sebenarnya mengapa Rani berbuat demikian. 

Kisah yang sebenarnya umum terjadi di sekolah: Bullying. Topik ini sebenarnya banyak terjadi namun tidak banyak orang yang menganggap hal ini serius. Melalui buku ini, kita diajarkan belajar untuk tidak menilai sesuatu berdasarkan rumor dari mulut ke mulut. Bahwa setiap orang memiliki alasan dibalik perbuatan mereka.

Novel ini juga dibumbui cinta segitiga antara Rani, Arkan dan Gibran. Rani yang masih mencintai Arkan, Arkan yang masih mencintai Rani namun merasa tersakiti dengan perbuatan Rani, dan Gibran yang mencintai Rani dan selalu berusaha melindungi Rani.

Juga buku ini menjelaskan apa pentingnya teman dalam hidup kita. Betapa kita membutuhkan teman agar kita bisa kuat saat kita berada di titik terendah dalam hidup. 

Sama seperti buku sebelumnya, Ka Erisca juga menuliskan novel ini dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, yaitu dengan gabungan bahasa baku dan bahasa gaul. Namun ada beberapa hal yang sebenarnya janggal menurutku dalam cerita ini. Namun over all, novel ini cukup bagus dan menginspirasi!

Ka Erisca berhasil lagi membuat kita rindu masa SMA, mengajarkan pada kita bahwa setiap orang memiliki alasan di balik perbuatan mereka, dan sahabat adalah hal yang terpenting yang dibutuhkan setiap orang.


Judul: Serendipity

Penulis: Erisca Febriani

Tahun terbit: 2016

Penerbit: Penerbit Inari

Halaman: 420 halaman


"Barang bisa dicari Ran, bisa dibeli lagi. Tapi, cewek kayak lo, cuma satu. Kalau rusak nggak bakal ada gantinya." Gibran.

"Gadis itu adalah bunga tapi dia juga adalah hujan. Terkadang dia adalah siang yang cantik, tapi juga adalah malam yang menyimpan kesedihan."

"Seperti dandelion. Coba lihat di cermin, kamu adalah kamu. Di dunia yang berisi delapan miliar manusia ini, tidak ada yang seperti kamu. Manusia saling berkompetisi. Kamu tidak boleh kalah dan menyerah, ya? Seperti Dandelion."


Tambahan: Sekarang kalian bisa baca kisah Rani di Webtoon Challenge, loh! Akan terbit setiap tanggal 4, 14 dan 24.


Disclaimer: This is not a sponsored post. The review is based on my honest opinion.


P.S. If you have read this book, tell me, are you #TeamArkan or #TeamGibran? 
Me? BINGUNG.

Jumat, 13 Januari 2017

Dear Nathan | #BookReview


Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menyelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.

Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi, yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi.

Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan.


Sebagai pengguna aplikasi Wattpad, tentu aku tau buku "Dear Nathan" yang sangat booming di Wattpad. Awalnya aku nggak tertarik tapi karena rekomendasi dari temenku, akhirnya aku baca. DAN AKU JATUH CINTA SAMA CERITANYA.

Lalu, ceritanya lama nggak diupdate. Sekalinya diupdate, muncul pemberitahuan kalau buku ini akan dibukukan. SEJAK ITU AKU BERTEKAT HARUS NABUNG DAN BELI KARENA BUKU INI.

"Dear Nathan" bercerita tentang Salma, seorang anak baru yang terlambat mengikuti upacara pertama di sekolah barunya. Saat itu dia bertemu Nathan yang membantunya untuk masuk sekolah lewat gerbang samping. 

Nathan adalah seorang anak nakal, malas belajar, suka bolos sekolah dan pembuat onar. Sedangkan Salma adalah anak baru di sekolah, pintar, polos dan tidak suka membuat masalah. Dua orang yang sangat berbeda, bagaikan langit dan bumi, atau seperti setan dan malaikat (HAHAHA).

Nathan yang selalu mencari masalah dan Salma dan selalu berusaha menghindari masalah, justru dipertemukan dalam pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja. Nathan pun jatuh cinta dan berusaha melakukan pendekatan dengan Salma. Nathan mendekati Salma dengan caranya sendiri, dengan sifatnya yang apa adanya, dengan melakukan hal-hal yang bisa membuat setiap gadis iri karena Salma mendapat perlakuan dari Nathan.

Namun dibalik Nathan yang nakal itu, tersimpan sebuah kisah yang memilukan, tersimpan diri Nathan yang lain, diri Nathan yang nggak pernah Nathan tunjukkin ke orang lain, selain Salma. Tidak ada hubungan yang selalu baik-baik saja, begitu juga hubungan Nathan dan Salma. Hubungan mereka harus bertahan melawan masa lalu dan rasa tidak percaya.

Juga, nggak hanya kisah Nathan dan Salma yang menarik. Kak Erisca Febriani juga menuliskan kejadian-kejadian lucu dan seru di masa SMA, yang bikin pembaca yang sudah lulus SMA jadi rindu masa sekolah, yang bikin anak-anak SMA jadi kangen sama temen-temen sekolah.

Gaya penulisan Kak Erisca juga mudah dipahami karena tidak terlalu berat. Dengan gabungan bahasa baku dan bahaya gaul remaja bikin buku ini terasa hidup dan nggak membosankan.

Yang paling aku suka dari buku ini adalah sifat dari Nathan itu sendiri. Dia memang anak nakal, tapi dia memiliki pemikirannya sendiri yang bikin aku sadar bahwa perbedaan bukanlah hal buruk. Nathan memang anak nakal, tapi dia menghargai wanita. Nathan memang nakal dan bodoh dalam pelajaran, tapi dia memiliki pemikirannya sendiri tentang kehidupan. 

Buku ini juga mengajarkan untuk tidak melihat segala sesuatu berdasarkan cover nya. Bahwa tidak semua yang buruk di luar juga buruk di dalam. Bahwa tidak semua yang baik di luar juga baik di dalam. Dan terakhir, buku ini juga mengajarkan untuk mengikhlaskan dan memaafkan masa lalu, dan berusaha memperbaikinya sekarang.

Erisca Febriani berhasil membuat kisah dua anak remaja SMA dengan gaya yang menarik, mudah dipahami, dan tetap memberikan kesan tersendiri, dan membuat pembacanya jatuh cinta dengan tokohnya dan pikirannya.


Judul: Dear Nathan

Penulis: Erisca Febriani

Tahun terbit: 2016

Penerbit: Best Media

Halaman: 528 halaman


"Cinta itu reaksi alamiah yang muncul tanpa disengaja." -- Nathan

"Jatuh cinta itu nggak butuh alasan, Sal. Proses memulai jatuh cinta memang bisa terjadi tanpa alasan...tapi," Nathan menggantungkan ucapannya.
Kening Salma mengernyit. "Tapi?"
"Tapi, mempertahankan untuk tetap suka atau melewatkan begitu saja, itu yang menurut saya harus butuh alasan."

"Sedihnya sejati bukan karena kehilangan. Tapi karena menyadari apa yang dulu selalu menemani hari, kini sudah pergi dan tidak ada di sini lagi. Dia pergi, tapi jiwanya tidak pernah mati."

"Sakit hati yang nantinya akan memberi pelajaran akan kebahagiaan. Dan sakit hati juga yang mengajarkan bahwa setelah jatuh cinta, seseorang selalu bisa bangkit kembali."

"Kalau ada cowok yang jatuh cinta karena penampilan. Itu bukan cinta, itu nafsu." -- Nathan



Tambahan: Buku ini sedang dalam proses difilm-kan loh! Film nya akan ada di bioskop-bioskop seluruh Indonesia di bulan Maret 2017. Kita bisa liat Nathan dan Salma versi nyata, he he he.


Disclaimer: This is not a sponsored post. The review is based on my honest opinion.


Minggu, 18 Desember 2016

The Girl on Paper (La Fille de Papier) | #BookReview



Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer's blok parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?


Suatu hari aku baca review tentang buku 'The Girl on Paper'. Aku tertarik karena ceritanya yang unik, yaitu tentang seorang karakter yang keluar dari buku ke dunia nyata. Sama kayak drama Korea W hehe.

Oke, balik lagi. Jadi, aku pun beli buku ini karena nggak sengaja sebenarnya. Jadi aku saat itu mau beli buku lain, tapi buku yang aku mau belum ada. Dan aku lihat buku ini, kebetulan aku memang mau juga buku ini, jadi yaudah beli akhirnya.

Satu hal yang sangat aku suka adalah covernya. WHO DOESN'T IN LOVE WITH THE COVER OF THE BOOK?! A cute girl sitting on a book with plain white as the background, ugh, so simple and cute.

Buku 'The Girl on Paper' ditulis oleh seorang penulis Prancis bernama Guillaume Musso. Judul asli buku ini adalah 'La Fille de Papier'. 

Buku ini menceritakan tentang Tom Boyd, seorang penulis buku terkenal yang terkena depresi dan writer's block berat karena putusnya hubungan dengan kekasihnya, Aurore, seorang pianis terkenal. Tom Boyd yang depresi menjadi tidak bisa menulis cerita lagi, menjadi ketergantungan dengan obat-obatan dan hidupnya berantakan.

Tom Boyd seharusnya menyelesaikan buku ke-3 nya namun dia tidak dapat menulis lagi karena depresinya. Hal itu menyebabkan Ia dililit hutang dan kehabisan uang karena temannya Milo sudah mengambil uang dimuka dengan penerbit buku. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka dari hutang dan kebangkrutan adalah Tom harus menulis bukunya namun Ia tidak bisa.

Suatu hari, seorang gadis yang tidak dikenal muncul di teras rumah Tom dengan misterius. Gadis itu mengaku sebagai Billie, karakter yang ada dalam buku Tom. Alasan yang gila namun Tom akhirnya percaya melalui serangkaian test interogasi oleh Tom. Billie dan Tom pun membuat perjanjian, Tom akan menulis buku ke-3 nya agar Billie bisa kembali ke dunia fiksi, dan Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Menurutku cerita ini sangat, sangat, sangat bagus! Aku bener-bener suka jalan ceritanya. Seluruh petualangan Tom dan Billie sangat seru! Meskipun mereka harus kabur dari polisi, ditipu orang asing, sering berselisih pendapat dan berbagai hal lainnya yang menyusahkan mereka berdua, tapi mereka terus bersama, bahkan saling jatuh cinta.

Kalau kamu sudah baca buku ini, kamu nggak akan bisa berhenti untuk baca karena setiap petualangan mereka sangat amat seru! Di review yang aku baca, ditulis kalau katanya ending ceritanya agak mengecewakan. Tapi bagi aku nggak sama sekali! Akhirnya bagus banget, aku sampe terharu bahagia gitu waktu selesai baca wkwkw.

'The Girl on Paper' berhasil mengeluarkan 1001 emosi selama aku baca buku ini. Mulai dari sedih, kesel, bahagia, terharu, campur aduk! Buku ini juga mengajarkan tentang pelajaran-pelajaran kehidupan, seperti untuk melupakan masa lalu yang buruk dan berjuang untuk maju.

Buku ini nggak hanya menceritakan kisah tentang Billie dan Tom, tapi juga Carole dan Milo, sahabat Tom. Buku ini ditulis dengan cara pandang orang-orang yang berbeda, jadi lebih menarik dan bikin tegang dan deg-deg-an haha. 

Kalau kamu baca buku ini pasti kamu tau kenapa aku sampe tegang dan deg-deg-an wkwk.

Guillaume Musso berhasil membuat sebuah ide yang luar biasa, dengan petualangan seru dan pelajaran hidup untuk maju dari masa lalu. 


Judul: The Girl on Paper | La Fille de Papier

Penulis: Guillaume Musso

Tahun terbit: Cetakan pertama tahun 2010. Cetakan pertama terjemahan Indonesia tahun 2016

Penerbit: Penerbit Spring

Halaman: 448 halaman


Tambahan: Aku sangat suka pembatas bukunya! Luchuuu:3

(yes, it is naruto on the back, hehe)

"Kurasa itulah makna semua cinta pada akhirnya: keinginan untuk mengalami semua hal bersama-sama, belajar dari perbedaan satu sama lain." -- Tom Boyd

"Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan: cepat atau lambat, pada akhirnya kehidupan nyata akan selalu menegaskan kemenangannya dari dunia imajinasi."


Disclaimer: This is not a sponsored post. The review is based on my honest opinion.